Pencapaian Laba Yang Impresif Memperkokoh Posisi BRI

Ilustrasi
Ilustrasi | Annualreport.id

Kondisi perekonomian yang sangat dinamis menuntut setiap perbankan harus selalu berupaya untuk meningkatkan kinerja dan produk-produk, sehingga tidak mengalami penurunan yang signifikan.

Sebut saja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki pemerintah ini telah membuktikan kinerja keuangan yang positif selama 12 tahun berturut-turut sebagai bank dengan laba terbesar di Tanah Air. Hingga September 2017, BRI mencatatkan capaian yang impresif. Laba Perusahaan menyentuh Rp20,5 triliun.

“Hal ini makin memperkokoh bank BRI sebagai bank dengan laba terbesar se-Indonesia selama 12 tahun berturut-turut,” kata Direktur Utama BRI Suprajarto dalam keterangan resminya, Minggu (17/12/2017).

Adapun nilai aset tercatat Rp1.038 triliun dan pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp770,6 triliun. Secara year on year (yoy), pertumbuhan segmen tersebut di atas rata-rata industri.

Penyaluran kredit mencapai Rp694,2 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau non performing loan masih terjaga di 2,33%, lebih rendah dari rata-rata industri. Sebelumnya, pada 2016, bank yang telah berusia 122 tahun ini merupakan penyumbang 20% dividen negara.

BRI terus mempertahankan posisinya sebagai bank yang fokus memberdayakan tulang punggung perekonomian nasional yaitu segmen Mikro dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Oleh karena itu, BRI menargetkan pertumbuhan kredit mikro tahun 2018 sebesar 15%-17% secara tahunan atau yoy. Sedangkan untuk segmen kredit ritel diharapkan tumbuh 12%-13% yoy.

Optimisme BRI terkait pertumbuhan kredit mikro ini karena pengalaman panjang bank di sektor ini selama bertahun tahun. Saat ini kredit UMKM menyumbang 74%-75% terhadap total kredit BRI.

Dalam jangka panjang BRI ingin agar penyaluran kredit UMKM ke depan bisa semakin efisien. Hal ini seiring implementasi perbankan digital dalam penyaluran kredit sektor ini. Untuk itu, bank mengoptimalkan layanan 1 hari dalam menyalurkan kredit UMKM.

Sebagai gambaran, saat ini bunga kredit mikro BRI 20%. Terkait KUR meskipun tahun depan bunganya disubsidi pemerintah menjadi hanya 7% sebenarnya secara rill bunga KUR masih sebesar 19%.

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Perekonomian, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 30 November 2017 telah mencapai Rp91,3 Triliun. Capaian tersebut setara dengan 85,6% dari target penyaluran KUR sepanjang 2017 yang sebesar Rp106,6 triliun.

Berdasarkan persentase, masih didominasi oleh skema KUR mikro sebesar 70,4%, diikuti oleh skema KUR ritel 29,3%, dan KUR Tenaga Kerja Indonesia (TKI) hanya 0,3%.

Perkembangan kinerja KUR menurut masing-masing penyalur juga menunjukkan tren positif. Penyaluran KUR tertinggi dicapai oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang realisasinya mencapai 96,2% atau Rp68,2 triliun dari target Rp71,2 triliun.

"Akhir tahun, Insya Allah (penyaluran KUR) bisa 100% (dari target)," kata Direktur BRI Priyastomo.

Kemudian, tingginya realisasi penyaluran KUR juga dicapai oleh PT Bank Mandiri Tbk (93,1%) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (65,6%). Sedangkan untuk kinerja penyaluran Bank Umum Swasta (24,9%) dan BPD (31,2%).

Untuk informasi, motor penggerak sektor finansial masih didominasi oleh saham-saham perbankan, yang dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Saham Bank BUMN ini tercatat menguat 52% sepanjang tahun berjalan dan memberikan kontribusi pada kinerja sektor finansial hingga 30,15%.

Di tahun ini, saham BBRI melakukan pemecahan nominal harga saham dengan rasio 1:5, setelah sebelumnya melakukan aksi serupa pada 2011. Setelah stock split, harga saham menjadi Rp3.340 per saham dari semula Rp16.040 per lembar saham.(RiP)