Karya Nyata BNI Mengabdi untuk Negeri

Ilustrasi
Ilustrasi | Nugroho/Annualreport.id

Sejak didirikan pada tanggal 5 Juli 1946, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk laksana bahtera yang terus berlayar di lautan pengabdian tanpa batas kepada bangsa dan negara. Sebuah karya nyata yang akan dikenang generasi selanjutnya sepanjang masa yang kini tertoreh dengan tinta emas pembangunan negeri.

71 tahun lalu BNI resmi mengawali kiprahnya, tepatnya pada peringatan pertama Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1946, di Yogyakarta. Ketika itu, Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan Bank Negara Indonesia (BNI) setelah sebelumnya Presiden Soekarno menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) No. 2/1946 pada 5 Juli 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia (BNI).

Filosofi “Negara Indonesia” melekat pada BNI yang mengandung ruh kedaulatan politik, kemampuan ekonomi, dan kepribadian budaya nasional Indonesia, yang oleh Bung Karno disebut Trisakti, sebagai esensi pembangunan.

Sejarah mencatat untuk pertama kali Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) resmi dicetak dan diedarkan BNI. Momentum itu sekaligus menarik seluruh mata uang Belanda dan Jepang yang beredar di Indonesia.

Tanggal 30 Oktober 1946, kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Keuangan Nasional. Sementara hari pendiriannya yang jatuh pada tanggal 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Bank Nasional. 

Pada tahun 1949, Pemerintah RI menunjuk De Javsche Bank yang merupakan warisan Pemerintah Belanda sebagai Bank Sentral. Maka, peran BNI pun sebagai bank sirkulasi atau bank sentral dikurangi.

BNI lalu ditetapkan sebagai bank pembangunan, dan selanjutnya diberi hak untuk bertindak sebagai bank devisa dengan akses langsung untuk transaksi luar negeri.

Pada tahun 1955, BNI diberi penambahan modal dan statusnya diubah menjadi bank komersial dengan pelayanan yang lebih luas. Nama BNI kemudian dilengkapi dengan tahun pendiriannya menjadi BNI 1946 atau lebih dikenal sebagai 'BNI 46' dan resmi digunakan mulai akhir 1968.

Pada 19 November 1955, BNI resmi go International dengan membuka kantor cabang di Singapura. Pada 1 Desember 1959, BNI membuka representative office di Tokyo, yang pada 1969 meningkat statusnya menjadi kantor cabang.

Inilah yang kemudian mendorong BNI membuka cabang di Hong Kong, New York, London, dan Osaka. Kantor-kantor cabang itu menjadikan BNI sebagai bank pemerintah pertama dan utama sebagai jembatan Indonesia ke dunia dan dunia ke Indonesia, selaras dengan peran Indonesia di dunia internasional.

Pada tahun 1968, Presiden Soekarno sesuai dengan amanat UU No. 17 Tahun 1968 menugaskan BNI menjadi benteng pertahanan ekonomi untuk menghadapi dan mengatasi inflasi yang sangat tinggi yang berbahaya bagi perekonomian nasional.

BNI harus mengambil inisiatif dan aksi korporasi agar stabilitas ekonomi sebagai cermin kedaulatan negara dan bangsa tetap terjaga dan terpelihara dengan membentuk cabang-cabang dan unit usaha sampai ke tingkat kelurahan dan desa.

BNI membentuk Bank Keliling, Bank Terapung (di Kalimantan), Bank Sarinah (untuk kaum perempuan), dan Bank Bocah (untuk anak-anak dan generasi muda, sebagai cikal bakal gerakan menabung secara nasional).

Pada tahun 1996, BNI menjadi bank BUMN pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sampai saat ini, Pemerintah RI memegang 60% saham BNI, sementara sisanya 40% dimiliki oleh pemegang saham publik baik individu maupun institusi domestik dan asing.

Ikuti ulasan Annualreport.id tentang sejauh mana BNI mewujudkan komitmen dan meraih prestasi agar senantiasa memberikan layanan dan kinerja yang unggul bagi nasabah dan bangsa Indonesia saat ini dan di masa mendatang.