Tahun Ini, Taspen Optimis Bukukan Laba Rp700 Miliar

ilustrasi
Direksi Taspen dalam paparan kinerja Perusahaan | Dok. Taspen

PT Taspen (Persero) atau Tabungan dan Asuransi Pensiun, memperkirakan hingga 2018 berakhir, Perseroan mampu membukukan laba bersih sebesar Rp700 miliar sesuai target yang ditetapkan.

Meski mencapai target, namun diakui kondisi perkonomian global mempengaruhi pendapatan Perseroan. Direktur Utama Taspen, Iqbal Latanro, mengatakan kondisi ekonomi global tahun ini membuat pencapaian Taspen melandai.

Selain itu, portofolio investasi PT Taspen yang 70% dialokasikan pada surat utang negara, menurutnya, turut ambil andil dalam perlambatan perolehan laba, karena sifat surat utang negara yang sensitif terhadap pasar.

“Tahun 2018 ekonomi global kan agak repot karena ekonomi kita market kita kan sangat dipengaruhi oleh pasar,” kata Iqbal, dalam keterangannya yang dilansir Bisnis.com, Rabu (5/12/2018).

Iqbal memperkirakan kondisi global yang tidak menentu ini akan tetap berlangsung hingga tahun depan. Adapun untuk menghadapi tantangan tahun depan, lanjutnya, perseroan akan mengefisiensikan biaya operasional dan memperbaiki risk management.

“Kami terkenal sangat efisien, biaya operasional kami sangat kecil hanya sebesar Rp500 miliar per tahun. Jadi tidak terlalu pengaruh,” ujar Iqbal.

Iqbal menjelaskan, terkait pertumbuhan laba Taspen pada 2018 dan 2019 mendatang salah satunya dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pada perekonomian global yang berdampak ke perekonomian nasional. Kondisi tersebut menyebabkan pasar modal Indonesia menjadi sangat volatil, sehingga hasil investasi Taspen jauh dari target yang diharapkan.

“Di dalam portofolio investasi Taspen ada instrumen investasi yang available for sale (AFS). Instrumen ini kena mark to market. Ada instrumen investasi yang hold to maturity. Itu tidak kena mark to market. Dengan kondisi indeks seperti ini, tentu nilainya turun,” terang Iqbal, seperti dikutip Katadata.co.id, Rabu (5/12/2018).

Kendati demikian, Iqbal berharap hasil investasi Taspen pada Desember ini akan lebih baik dengan kondisi pasar modal yang mulai membaik. “Pencapaiannya agak lebih rendah dari target. Karena masih ada terkena mark to market yang berpengaruh. Belum ada gain karena belum di-trading. Biasanya kalau Desember indeksnya membaik, itu (hasil investasi) naik,” papar Iqbal.

Portofolio investasi Taspen saat ini didominasi oleh surat berharga negara (SBN) yang porsinya mencapai 70% dari total portofolio investasi. Sisanya adalah instrumen investasi yang sensitif terhadap kondisi pasar modal. Namun Iqbal menyampaikan, jika kondisi pasar modal tahun depan bagus, ada kemungkinan Taspen akan menurunkan porsi SBN.

Untuk menghadapi potensi pasar modal yang volatil pada 2019, Taspen juga akan memperkuat manajemen risikonya. Selain itu Taspen akan lebih banyak melakukan investasi langsung tidak pada instrumen saham, melainkan pada instrumen reksadana penyertaan terbatas yang risikonya lebih rendah dibandingkan instrumen investasi saham.(DD)