Naik 53%, Bisnis Emas Pegadaian Kantongi Pendapatan Sebesar Rp63,1 Miliar

ilustrasi
Direktur Utama PT Pegadaian Sunarso, dalam sebuah acara baru-baru ini | Dok. Pegadaian

PT Pegadaian (Persero) mencatatkan kinerja positifnya dari salah satu lini bisnisnya, yakni bisnis emas dengan membukukan pendapatan Rp63,1 miliar sampai April 2018. Pendapatan itu disumbang dari layanan emas seperti Mulia, tabungan emas dan Galeri24.

Direktur Utama PT Pegadaian Sunarso mengatakan, pencapaian tersebut naik signifikan. Perseroan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 53%, dari periode yang sama di tahun lalu yaitu sebesar Rp41,2 miliar.

“Pendapatan bisnis emas Pegadaian hingga April 2018 sebesar Rp63,1 miliar, tumbuh 53% dari pendapatan sampai dengan April 2017 yaitu sebesar Rp41,2 miliar,” kata Sunarso, dalam keterangannya yang dilansir Kontan.co.id, Rabu (16/5/2018).

Sunarso mengatakan, nasabah tabungan emas mayoritas berasal dari lima kota besar yang ada di Indonesia, yaitu dari Jakarta sebanyak 222.000 nasabah, Surabaya sebanyak 157.000 nasabah, Denpasar sebanyak 143.000 nasabah, Semarang sebanyak 124.000 nasabah, dan Makassar sebanyak 119.000 nasabah.

Namun, meski menguasai sebagian besar atau 98,75% market share industri pergadaian nasional, Pergadaian tetap memiliki pesaing dalam industri keuangan tanah air.

Sunarso mengungkapkan tiga pesaing utama Perseoran dalam menjalankan bisnis keuangan. Pertama, perbankan, terutama melalui program kredit usaha rakyat (KUR). “Yang riil dirasakan adalah produk substitusi dari bank, terutama bank yang menyalurkan kredit yang didalamnya ada subsidi negara, atau KUR,” jelas Sunarso, seperti dikutip Bisnis.com, Rabu (16/5/2018).

Sunarso mengaku sulit menyaingi tingkat bunga yang ditawarkan KUR, karena relatif rendah dan disubsidi sebagian besar oleh Pemerintah.

Pesaing kedua, lanjutnya, kehadiran financial technology (fintech). Sunarso bahkan menyebut, fintech berpotensi besar mengakibatkan disrupsi dalam industri keuangan nasional.

“Begitu fintech lending diintegrasikan dengan payment sistem dan lain-lain, maka dia akan mempunyai speed yang luar biasa. Itulah yang akan mendisrupsi industri keuangan kita secara keseluruhan baik yang konvensional dan syariah,” ujar Sunarso.

Ketiga, kehadiran perusahaan pergadaian swasta yang dilandasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.31/2016 tentang Usaha Pergadaian. “Tetapi menurut saya ini (kehadiran pergadaian swasta) tidak perlu dikhawatirkan,” ungkapnya.

Sebab, lanjut Sunarso, market share pergadaian swasta di industri pergadaian nasional per akhir 2017 hanya sebesar 1,45% saja.(DD)