Mandiri Bakal Salurkan Pembiayaan Pembangunan Jalan Tol di Triwulan I/2019

ilustrasi
Senior EVP Large Corporate Bank Mandiri, Dikdik Yustandi (dua dari kiri) | Dok. Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih akan menyalurkan pembiayaan pada beberapa proyek pembangunan jalan tol secara sindikasi pada triwulan I/2019. Hingga triwulan III/2018, portofolio Perseroan terkait pendanaan tol tercatat bertumbuh 31% secara tahunan (year on year/yoy) dengan nilai yang telah dikucurkan sebesar Rp12,3 triliun.

Senior EVP Large Corporate Bank Mandiri, Dikdik Yustandi, mengatakan memang pada triwulan I tahun 2019 masih memiliki beberapa pipeline proyek tol yang akan ditandatangani secara sindikasi di beberapa ruas jalan tol.

Didik menjelaskan, ada beberapa proyek infrastruktur lain yang siap didanai Mandiri di triwulan I/2019 seperti proyek pelabuhan dan kelistrikan. Sedangkan skemanya akan dilakukan baik secara sindikasi maupun bilateral. “Kami perkirakan proyek-proyek tersebut dapat ditandatangani pada triwulan I/2019,” kata Dikdik, seperti dikutip dari Kontan.co.id, Sabtu (12/1/2019).

Dalam bisnis pendanaan proyek tol, Mandiri terakhir memimpin kredit sindikasi enam ruas tol dalam kota tahap I Semanan-Sunter, dan Sunter-Pulogebang dengan panjang 30 kilometer. Bank Mandiri memimpin sindikasi beranggotakan 29 bank dengan nilai pendanaan Rp13,7 triliun.

Menurut Didik, dalam keterangannya yang dilansir dari Wartakota.tribunnews.com, Sabtu (12/1/2019), pembangunan tol tersebut mengambil porsi paling besar dalam portofolio kredit sindikasi Perseroan, yakni sebesar 36%. Diikuti proyek energi dan pertambangan sebesar 28%, dan kelistrikan sebesar 11%. Sementara pada 2018, kredit sindikasi Perseroan tumbuh sebesar 30%.

Di lain sisi, Badan Pengatur Jalan Tol atau BPJT juga telah menyiapkan enam ruas tol yang ditargetkan bisa dilelang pada triwulan I/2019.

Ruas-ruas tersebut adalah Kamal-Teluk Naga-Rajeg (38,6 km), Balaraja-Semanan (31,9 km), Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (184,05 km), Jembatan Penajam- Passer Utara (7,6 km), serta Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo (91,93 km).

Dari enam ruas tersebut, BPJT memprediksi total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp137,74 triliun.(DD)