Bangun Proyek Geothermal, PLN Raih Pendanaan dari Jerman Sebesar Rp2,61 Triliun

ilustrasi
Salah satu Gardu Induk PLN | Dok. PLN

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, meraih pendanaan sebesar Rp2,61 triliun dalam gelaran International Monetary Fund-World Bank Group (IMF-WBG) 2018 di Nusa Dua, Bali. PLN berhasil melakukan kerja sama dengan pendanaan dari Jerman bernama The KfW atau KfW Bankengruppe.

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman, mengatakan pendanaan dari KfW berupa utang. Menurutnya, nilai proyek ini sebesar Euro 210 juta. Dalam data Kementerian BUMN, utang yang akan diberikan KfW sendiri tertulis sebesar Euro 150 juta, jika dikonversikan ke rupiah menjadi Rp2,61 triliun.

“Ini proyek geothermal (panas bumi) di NTT. Iya dikasih pinjaman ya. Total proyeknya itu sekitar Euro 210 juta kalau tidak salah,” kata Syofvi, dalam keterangannya yang dilansir Kumparan.com, Rabu (10/10/2018).

Syofvi menuturkan penjajakan dengan KfW sendiri untuk proyek ini sudah berlangsung selama setahun. Jadi, lanjut Syofvi, pada 11 Oktober 2018 akan dilangsungkan tanda tangannya. Adapun tenor yang diberikan di bawah 20 tahun. PLN sendiri sudah pernah melakukan pinjaman dengan KfW beberapa kali. Alasannya karena bunga yang ditawarkan 0 persen.

Proyek kelistrikan ini terdiri dari beberapa konstruksi pembangkit listrik, yaitu Ulumbu 5 GPP berkapasitas 20 MW yang berlokasi di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai.

Sementara di Mataloko terdiri dari‎ Mataloko 2 GPP berkapasitas 10 MW dan Mataloko 3 GPP berkapasitas 10 MW yang berlokasi di Desa Todabelu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.

“Proyek kita banyak tapi enggak bisa short term. Ini dengan KfW kita sudah lama deal-nya. Tinggal tandatangan. (Sejak) Setahun lalu. Dulu ada. Kita banyak proyek sama dia. Macam-macam. Ini bagian daripada itu,” ujar Syofvi, seperti dikutip Liputan6.com, Rabu (10/10/2018).

Syofvi menyatakan, KfW mau memberikan bunga pinjaman yang rendah sehingga PLN berani untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Jerman tersebut. Namun, terlepas dari hal tersebut, keberadaan pembangkit listrik ini diharapkan akan memenuhi kebutuhan listrik untuk wilayah NTT.

Rate-nya 0 persen. Saya ambil dong karena rendah. ‎(Tenornya?) Kayanya below 20 years,” tandasnya.(DD)