Esensi: Pertamina Dikabarkan Raup Keuntungan di Atas Rp20 Triliun di 2018

ilustrasi
Kinerja Pertamina disebut positif di 2018 | Dok. Pertamina

PT Pertamina (Persero) dikabarkan meraih keuntungan yang cukup besar di tahun ini, di tengah isu yang tak sedap, bahwa perusahaan minyak dan gas (migas) milik negara ini bakal mengalami penurunan laba yang cukup drastis di tahun 2018. Kabar ini sebagaimana yang dibocorkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini.

Esensi Berita:

  1. Presiden Jokowi menyatakan Pertamina mencatat laba bersih atau keuntungan sebesar Rp20 triliun di 2018. Hal ini sekaligus merespons kabar mengenai beban keuangan perusahaan pelat merah tersebut, yang menjual bahan bakar minyak (BBM), terutama untuk jenis avtur, dengan harga tinggi. “Pertamina kemarin laporan lisan ke saya untungnya di atas Rp20 triliun kok,” kata Presiden Jokowi, seperti dilansir Medcom.id, (12/2/2019).
  2. Laba yang dicetak Pertamina ini memang mengejutkan. Pasalnya, hingga akhir kuartal III tahun lalu, Perseroan disebut cuma mampu bukukan Rp5 triliun. Perolehan tersebut merosot jauh dibanding capaian di 2017 lalu. Laba tercatat merosot sekitar 81% dibanding yang bisa dicapai perseroan di periode yang sama tahun lalu ketika perusahaan membukukan laba US$1,99 miliar atau setara Rp26,8 triliun. Sedangkan dalam setahun lalu perseroan bisa membukukan laba hingga Rp35 triliun.
  3. Pengamat energi dari Universitas Gajah Mada Fahmy Radhi mengatakan ada beberapa hal yang membuat laba Pertamina merosot tajam, saat itu. Pertama, BUMN migas tersebut harus menanggung potential loss sebagai akibat dari kenaikan harga minyak dunia tetapi harga jual bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi tidak naik.
  4. Selain potential loss, lanjut Fahmy, produksi hulu migas di semua blok, ONWJ, Mahakam, dan lain-lain, rata-rata turun di bawah target APBN. “Yang ketiga, efisiensi Pertamina itu sangat rendah, banyak pemborosan dalam pengeluaran biaya,” ujar Fahmy, Desember lalu, seperti dikutip CNBCIndonesia.com, Selasa (12/2/2019).

Info Terkait:

  1. Sampai saat ini, belum ada laporan keuangan yang dirilis Pertamina maupun BUMN yang bisa mengkonfirmasi kenaikan laba yang diperoleh induk Holding Migas ini. Namun, Januari lalu anak usaha Pertamina di sektor hulu yakni Pertamina EP mencatat laba cukup besar yakni US$753 juta atau setara Rp10,69 triliun. Laba di cetak karena adanya kenaikan produksi migas Pertamina EP yang mencapai 101 % dari target dengan total produksi 255 MBOEPD.
  2. Sementara, Pertamina mengaku kinerja keuangan Perseroan tak akan tertekan meski Pemerintah melakukan pembaruan formulasi harga untuk beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM), seperti Avtur dan Premium. “Kami tidak masalah. Semua sudah dikalkulasi, tidak ada masalah. Namun harga Avtur saat ini kami sedang formulasikan,” jelas Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (12/2/2019).
  3. Nicke bilang, saat ini perusahaannya masih melakukan simulasi harga Avtur yang optimal. Kendati begitu, Nicke menjamin peraturan Pemerintah tak akan membuat kinerja keuangan Perseroan terpuruk. Sebab, harga jual Avtur yang diberlakukan Pertamina saat ini masih jauh dari harga patokan atas yang diterapkan pemerintah. “Untuk sekarang ya kami ikuti dulu saja aturannya,” jelas dia.
  4. Meski berdalih keuangannya tak akan tertekan, Nicke masih enggan membeberkan kinerja keuangan perusahaannya sepanjang tahun lalu. Sebab, dirinya menunggu audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kurang bayar subsidi yang sedianya perlu dibayar Pemerintah. “Audit BPK ini biasanya akan keluar pada Maret minggu pertama. Tapi bagus kok,” ungkap Nicke.(DD)