Wilson Arafat: GCG dan Awal Kemunculannya di ASEAN

Wilson Arafat
Wilson Arafat | Indra Gunawan

Anda mungkin masih ingat dengan kasus Enron Corporation dan Worldcom, dua perusahaan raksasa Amerika dengan puluhan ribu karyawan. Kedua perusahaan ini bangkrut, menyisakan ribuan pengangguran di Amerika. Kasus mereka merupakan dua dari sederet kejahatan rekayasa pembukuan, dan menjadi gambaran betapa mengerikannya akibat tidak diterapkannya prinsip-prinsip Good Corporate Governce (GCG).

Karena itu, GCG sudah bukan merupakan pilihan lagi bagi pelaku bisnis, tetapi sudah suatu keharusan dan kebutuhan vital serta sudah tuntutan masyarakat dengan adanya aturan-aturan dan regulasi yang mengatur tentang bagaimana penerapan corporate governance yang baik.

Praktisi dan pakar GCG Indonesia Wilson Arafat bahkan mengatakan, dengan menerapkan GCG, sustainable sebuah perusahaan dapat terjamin.

Namun sebelum jauh membahas tentang bagaimana sustainable sebuah perusahaan dapat terjamin dengan menerapkan GCG, sangat penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana istilah GCG tersebut muncul dan bagaimana perkembangannya di Tanah Air.

Berikut ini petikan wawancara annualreport.id dengan Wilson Arafat di kantornya, Menara BTN, Jakarta, Rabu (29/6):

Bisa dijelaskan, kapan istilah GCG ini muncul secara global?

Corporate governance itu sebenarnya ilmu lama tapi dengan bungkus baru.  Maksudnya, karena ada kebutuhan baru, maka muncullah istilah Corporate Governance. Awalnya, ilmu ini bernama theory corporate dan conflik agency.

Ketika terjadi krisis ekonomi secara global, banyak perusahaan yang membuat membuat penelitian dan kajian, terutama di Eropa dan Amerika. Kalau di Eropa ada istilah Cadbury Report. Cadbury Report ini diketuai oleh Sir Adrian cadbury, Agen Cadbury. Ketika itu pemerintah Inggris meminta cadbury melakukan penelitian, apa yang menjadi penyebab krisis.

Lalu Cadbury pun membentuk Cadbury Committe. Hasil penelitian itu diberi nama Cadbury Report pada 1992.

Cadbury Report itulah yang kemudian disarankan kepada seluruh perusahaan di Eropa. Bila mereka tidak ingin krisis ekonomi terulang, maka disarankan untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang terdapat dalam cadbury report tersebut yang kemudian diistilahkan dengan corporate governance.

Jadi, dari cadbury report tersebut muncul istilah good corporate governance?

Ya. Cadbury report menjadi salah satu sumber GCG tersebut berkembang. Dari sana, munculah banyak organisasi yang menjadi pendorong penerapan GCG, misalnya OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi yang berkedudukan di Paris.

OECD mengeluarkan prisnsip-prinsip GCG secara umum, kemudian disebarkan ke semua regional, termasuk ASEAN.

Lantas, bagaimana pekembangan GCG di ASEAN?

Di ASEAN sendiri berkumpul negara-negara yang kemudian membentuk forum bernama Asean Capital Market Forum (ACMF). Negara-negara ASEAN ini kemudian menciptakan atau sepakat untuk menerapkan Asean Corporate Governcance Scourecard (Asean CG Scorecard) untuk level ASEAN.

Asean CG Scorecard ini kemudian menjadi standar bagi perusahaan-perusahaan di ASEAN, terutama untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jadi, semua negara di ASEAN memiliki standard yang sama, yakni ASEAN CG Scorecard.

Seperti ISO, ya, Pak?

Ya, ASEAN CG Scorecard ini seperti layaknya standar ISO bagi perusahaan manufaktur untuk melakukan ekspor dan impor. Nah, standar GCG di ASEAN untuk MEA, namanya ASEAN CG Scorecard.

Lalu, bagaimana konsep GCG dari ASEAN CG Scorecard ini turun ke Indonesia?

Asean CG Scorecard dirumuskan oleh OECD. Dari OECD turun ke regional, termasuk kawasan ASEAN. Di ASEAN, seluruh ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) negara-negara ASEAN berkumpul dan sepakat untuk menerapkan ASEAN CG Scorecard.

Di Indonesia, Ketua OJK adalah Muliaman D Hadad. Beliau yang mengeluarkan dan meresmikan roadmap tata kelola perusahaan Indonesia.