Naik 112,94%, Anak Usaha PTPP Bukukan Laba Bersih Rp189,69 Miliar

ilustrasi
Pemaparan kinerja PP Presisi untuk tahun buku 2017, beberapa waktu lalu | Dok. PP Presisi

Anak usaha PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) yakni PT PP Presisi Tbk (PPRE), pada kuartal III/2018 berhasil membukukan laba bersih Rp189,69 miliar atau tumbuh 112,94% dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya. Sejumlah proyek infrastruktur yang telah menjadi kontrak dihadapi Perseroan, cukup menopang pertumbuhan laba bersih tersebut.

Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan PP Presisi, Benny Pidakso, mengatakan bahwa earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization atau EBITDA Perseroan Rp579,3 miliar pada Januari - September 2018. Pencapain tersebut naik 80% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Secara kuartalan, sambungnya, EBITDA menunjukkan tren peningkatan yakni Rp183,2 miliar pada kuartal I/2018, Rp197,9 miliar pada kuartal II/2018, dan Rp198,2 miliar pada kuartal III/2018.

Di sisi lain, Benny menyebut, pendapatan Perseroan juga tercatat naik 114% secara tahunan dari Rp929,7 miliar menjadi Rp1,99 triliun. Sektor yang menjadi penopang yakni civil work dengan pertumbuhan 116% dari Rp564,7 miliar menjadi Rp1,5 triliun pada kuartal III/2018

“(Pendapatan civil work) sebagian besar berasal dari proyek tol Pandaan–Malang, proyek tol Manado–Bitung, proyek bendungan Way Sekampung, proyek bendungan Leuwi Keris, proyek pengendalian Lahar Sinabung, proyek runway ketiga Bandara Soetta, serta proyek jalan Akses PLTA Cisokan,” ujar Benny, dalam keterangan tertulisnya yang dilansir, Rabu (7/11/2018).

Dia menjelaskan, bahwa pendapatan civil work memberikan kontribusi terbesar yakni 75%. Selanjutnya, kontribusi disusul alat berat 11%, ready mix 6%, formwork 5%, dan coal hauling 3%.

“Proyek-proyek infrastruktur yang telah menjadi order book kami dari tahun 2016 - 2017 masih menopang kinerja kuartal III/2018,” imbuh Benny.

Sebagai informasi, PPRE mengantongi kontrak baru Rp4 triliun per September 2018. Dengan tambahan tersebut, order book atau kontrak dihadapi senilai Rp13 triliun dengan rincian carry over 2017 Rp9 triliun dan kontrak baru Rp4 triliun.(DD)