Akuisisi Saham Freeport, Inalum Terbitkan Global Bond US$4 Miliar

ilustrasi
Penandatanganan Sales & Purchase Agreement antara Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin dan CEO Freeport-McMoRan, Richard Adkerson, di kantor Kementerian ESDM | Dok. Kementerian ESDM

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) menerbitkan global bond atau obligasi global dengan total jumlah pokok US$4 miliar sebagai bagian dari pendanaan peningkatan kepemilikan saham di PT Freeport Indonesia (PTFI).

Dalam keterangan yang dilansir Bisnis.com, Kamis (8/11/2018), disebutkan bahwa Inalum telah melakukan pencatatan obligasi global di Singapore Exchange Ltd (SGX).

Surat utang tersebut terbagi ke dalam empat kategori atau seri. Untuk seri pertama, memiliki jumlah pokok US$1 miliar dengan tenor 3 tahun berkupon 5,5%. Seri selanjutnya memiliki jumlah pokok US$1,25 miliar dengan tenor 5 tahun berkupon 6%.

Kemudian, seri ketiga memiliki jumlah pokok US$1 miliar dengan tenor 10 tahun berkupon 6,875%. Seri terakhir, memiliki jumlah pokok US$750 juta dengan tenor 30 tahun berkupon 7,375%.

Dengan demikian, total jumlah pokok obligasi yang diterbitkan senilai US$4 miliar. Rencananya, dana tersebut akan masuk ke induk Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertambangan itu pada 15 November 2018.

Surat utang tersebut mendapatkan peringkat Baa2 dari Moody’s Investors Service dan BBB dari Fitch Ratings. Adapun, rencana penggunaan dana yakni pembiayaan akuisisi Freeport Indonesia.

Untuk mendapatkan dana dari global bond, dikabarkan Inalum telah melakukan ‎roadshow sebelumnya ke Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat dan London.

Sebelumnya, seperti dikutip Liputan6.com, Kamis (8/11/2018), Head of Corporate Communication Inalum, Rendi Achmad Witular, mengatakan bahwa Inalum tidak memberikan jaminan apapun ke pihak penyedia pinjaman, untuk membeli saham Freeport Indonesia. Baik dari sisi aset atau saham Freeport Indonesia yang dimiliki Inalum.

“Enggak ada yang dijaminkan, enggak ada jaminan saham atau aset,” tutur Rendi.

Menurut Rendi, Inalum bisa mendapat pinjaman tanpa jaminan, karena Freeport Indonesia memiliki potensi bisnis yang bagus, tidak memiliki utang dan memiliki keuangan yang baik sehingga bisa menghidupi perusahaan sendiri.

“Karena potensi bisnis Freeport bagus, kedua Freeport Indonesia tidak ada utang, mereka mampu  menghidupi sendiri dan harga yang kita dapat murah,” ujarnya.(DD)