Sara K. Loebis, Corsec United Tractors: Meraih Kepercayaan Shareholder Dengan GCG

Corporate Secretary PT United Tractors Tbk Sara K. Loebis
Corporate Secretary PT United Tractors Tbk Sara K. Loebis | Siti Marwiyah/Annualreport.id

Pentingnya penerapan GCG dalam manajemen perusahaan semakin disadari oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). GCG diyakini sebagai instrumen yang sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan publik serta menjaga keberlangsungan sebuah perusahaan.

Salah satu perusahaan yang menyadari pentingnya GCG ini adalah PT United Tractors Tbk atau UT. UT adalah salah satu anak usaha dari perusahan konglomerasi Indonesia, PT Astra International Tbk. UT, Sebagaimana dikatakan oleh Corporate Secretary (Corsec) UT Sara K. Loebis, sudah merasakan dampak positif atau manfaat dari penerapan GCG, di antaranya adalah memperoleh kepercayaan shareholder saat melakukan right issue di Pasar Modal. Bagaimana ceritanya?

Berikut ini petikan wawancara Annualreport.id Sara K. Loebis di Bogor, beberapa waktu yang lalu:

Bisa Ibu jelaskan tentang penerapan GCG di UT?

UT selalu mengikut kaidah-kaidah GCG yang dipersyaratkan oleh regulator, yakni OJK dan IDX (Indonesia Stock Exchange). Kaidah-kaidah GCG tersebut kita tuangkan dalam Anggaran Dasar Perusahaan serta Piagam Board of Director (BOD) dan Komisaris.

Sejak kapan UT menerapkan GCG?

UT menerapkan prinsip atau kaidah GCG secara benarbenar sekitar tahun 2004. Pada tahun itu kita mulai konsern menerapkan kaidah-kaidah GCG. Apalagi regulator, dalam hal ini OJK dan IDX, mensyaratkan GCG itu dituangkan baik dalam Annual Report UT maupun dalam buku Code of Conduct (Buku Kode Etik) Perusahaan. Dalam Annual Report UT ada bab khusus yang menjelaskan tentang pelaksanaan GCG di UT.

Siapakah yang melaksanakan evaluasi GCG di UT?

Yang mengevaluasi penerapan GCG UT adalah Direksi UT sendiri. Para Direksi akan mereview pelaksanaan GCG tersebut. Hal ini dilakukan kami lakukan untuk meyakinkan publik bahwa tidak ada yang “bolong” dalam menerapkan GCG. Kami melaksanakan GCG secara compliance. Sepanjang kami compliance dengan peraturan OJK dan IDX, setidaknya kita sudah melaksanakan GCG dengan benar

Selain itu, ada juga pembekalan dan pengayaan GCG dari Komite Nasional Kebijakan Governance atau KNKG. Kemudian kita serap dan kita coba implementasikan.

Salah satu prinsip GCG adalah transparancy atau keterbukaan. Bagaimana UT menyikapi yang satu ini?

Bagi UT, transparancy adalah apa yang harus kita publikasikan atau kita declare pasti kami lakukan secara fair. Artinya, yang berhak tahu, maka mereka akan tahu pada waktunya dengan porsinya. Itu prinsip kami. Jadi, ketika kami harus merilis laporan keuangan Perusahaan, maka kami rilis sebagaimana yang dipersyaratkan oleh regulator. Laporan tersebut kami tayangkan di website kami. Kami juga merima dan menjawab telepon atau email yang berisi pertanyaan tentang kinerja keuangan kami, baik dari media mau pun analis. Jadi kita buka sesuai porsinya.

Apakah UT mengalami hambatan dalam menerapkan GCG?

Sejauh ini tidak ada hambatan, karena kami semua menerima. Kami menyadari, pada dasarnya GCG berfungsi untuk menjaga reputasi, untuk bisa lebih percaya diri, dan sustainability Perusahaan. Tanpa GCG, kepercayaan dari pemegang saham, stakeholder, dan masyarakat, akan terganggu. Kami tidak akan bisa menyatakan bahwa perusahaan kami sustain kalau GCG kami tidak bagus. Jadi, sustain itu salah satu komponennya yang paling pentingnya adalah GCG.

Apa kira-kira dampak positif yang dirasakan oleh UT?

Misalnya saja, right issue. Right issue ini sangat sangat ditentukan oleh kepercayaan shareholder. Mereka akan bertanya, Anda melakukan right issue untuk apa? Jika untuk peningkatan modal, maka modal untuk apa? Jadi, bila mereka tidak percaya dengan Perusahaan, mereka akan banyak bertanya ini dan itu, lalu mereka menyatakan tidak akan ikut right issue. Itu artinya, right issue-nya tidak sukses.

Tapi, ketika UT beberapa kali mengadakan right issue, hal ini disambut baik oleh shareholder. Bahkan sering terjadi oversubscribed. Artinya, ketika UT menargetkan dana dari right issue hanya sekian, namun masih banyak shareholder yang ingin menambahkan sahamnya, sehingga oversubscribed.

Itulah salah satu cerminan positif bahwa mereka percaya kami punya intensi yang benar untuk melakukan peningkatan modal. Seandainya saja GCG UT tidak bagus, mungkin UT akan sulit mendapatkan dana dari right issue. Para pemegang saham pasti akan banyak bertanya tentang ini dan itu.