Head of Corcom and Investor Relations Bank Woori Saudara Yery Januar Triadi: Perkuat Daya Saing dengan Woori Global Standard System

Yery Januar Triadi, Head of Corcom and Investor Relations Bank Woori Saudara
Yery Januar Triadi, Head of Corcom and Investor Relations Bank Woori Saudara | Dok. Yery Januar Triadi

Tahun 2017 menjadi tahun yang penuh warna bagi PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk atau Bank Woori Saudara. Beragam aksi korporasi terbilang sukses. Beragam penghargaan pun sempat diraih. Salah satunya adalah right issue dengan skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) yang sukses dilakukan pada Juni 2017 lalu. Bank yang berkedudukan di Paris van Java alias Bandung, Jawa Barat, berhasil menambah permodalan sekitar Rp1,3 triliun.

Dampak positif dari right issue ini adalah pengurangan biaya bunga, peningkatan likuiditas, dan perbaikan struktur permodalan, sehingga neraca keuangan Perseroan menguat serta aset meningkat.

Di tahun ini pula, produk perbankan dari Bank Woori Saudara bertambah banyak, di antara yang diluncurkan adalah Internet dan Mobile Banking.

Pada tahun ini juga, tepatnya semester I, Bank Woori Saudara menorehkan perolehan laba yang tumbuh signifikan sebesar 61%. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan berkode saham SDRA itu mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp222,37 miliar pada paruh pertama tahun ini. Capaian itu tumbuh 61,13% dibandingkan Rp138,01 miliar pada periode sama tahun lalu.

Dari data laporan keuangan interim, Bank dengan kode emiten SDRA ini berhasil memperoleh pendapatan bunga bersih yang lebih baik pada periode semester I 2017, sebesar Rp493,43 miliar. Kinerja itu tumbuh 11,32% dibandingkan Rp443,26 miliar pada paruh pertama tahun lalu.

Di sisi lain, laba bersih tahun berjalan ikut melambung disokong dengan pertumbuhan pendapatan operasional lainnya. Tak hanya itu, Perusahaan juga berhasil menghimpun dana pihak ketiga lebih besar.

Hingga Juni tahun ini, Bank Woori Saudara menghimpun dana pihak ketiga sebesar RpRp16,48 triliun. Total dana itu tumbuh 12,87% dibandingkan Rp14,6 triliun per Desember tahun lalu. Sedangkan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga mencapai Rp17,4 triliun sepanjang semester I 2017, tumbuh 6,17% dibandingkan Rp16,49 triliun pada akhir tahun lalu.

Dari tahun ke tahun, setelah merger pada tahun 2015, kinerja Bank Woori Saudara memang melesat. Lantas, apa strategi dari Bank Woori Saudara hingga mampu melesatkan kinerjanya tersebut?

Ikuti saja perbincangan Annualreport.id dengan Head of Corporate Communication and Investor Relations Bank Woori Saudara Yery Januar Triadi di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Bisa diceritakan pertama kali Anda berkarir di Bank Woori Saudara?

Pertama gabung di Bank Woori Saudara pada 27 Februari 2012. Ketika itu, namanya masih Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk dengan kode emiten SDRA. Saya langsung ditempatkan di Departemen  Corporate Communication yang berada di bawah Corporate Secretary. Sejak itu, selain ditugaskan untuk menyusun buku Annual Report 2011, saya juga menjadi bagian dari tim obligasi. Ketika itu, Bank Himpunan Saudara menerbitkan obligasi sebesar Rp100 miliar dan Rp200 miliar.

Kemudian pada tahun 2013, saya menjadi bagian dari tim akuisisi saham Bank Saudara oleh Bank Woori Indonesia yang induknya Woori Bank Korea. Saat itu mengakuisisi 33 % saham Bank Saudara.

Lalu pada tahun 2014, Bank Saudara merger dengan Bank Woori Indonesia. Pada tahun 2015, berganti nama menjadi PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. Setelah merger pada tahun 2015 tersebut hingga saat ini, saya memegang Departemen Investor Relations.

Bisa diceritakan ketika Anda ikut membidani mergernya dua entitas bank menjadi satu yaitu PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk?

Ya. Saya mengikuti proses merger bukan hanya sebagai karyawan biasa saja tapi juga menjadi project officer yang mengurus mergernya sendiri. Apalagi kantor pusat kami berada di Bandung, sehingga kami harus berkoordinasi dengan banyak pihak.

Ketika itu, dua entitas, yaitu PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk (Bank Saudara) dan PT Bank Woori Indonesia (Bank Woori Indonesia) melebur menjadi satu. Meski Bank Woori Korea pemegang saham mayoritas, namun yang mempunyai legalitas tertinggi yaitu sebagai perusahaan Tbk adalah Bank Saudara, sehingga Bank Woori Indonesia melebur ke Bank Saudara menjadi Bank Woori Saudara/BWS (PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk).

Sejak 2006/2007 Bank Saudara sudah berbentuk “Tbk”. Sementara Bank Woori Indonesia berbentuk Perusahaan Terbatas (PT). Setelah merger, komposisi sahamnya menjadi Bank Woori Korea 74%, Pak Arifin Panigoro dan Medco Group sebesar 20%, dan sisanya adalah publik.

Sekarang setelah ada penambahan modal dari right issue dengan skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebesar ±Rp1,3 triliun. Maka saham Pak Arifin dan Medco secara keseluruhan terdilusi menjadi ±14%, sementara Bank Woori Korea sebesar 79,88%.

Bagaimana kinerja setelah merger?

Setelah merger, kinerja dan pertumbuhan Bank Woori Saudara pun cukup signifikan. Pertumbuhan dan rasio-rasio perbandingannya cukup signifikan.

Misalnya saja, BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional) kita sebelum merger selalu mencapai diatas 80%. Tapi dengan merger, Bank Woori Saudara berhasil menekan BOPO menjadi dibawah ±80%. BOPO Juni 2017 adalah 75,39% mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya dengan periode yang sama 81,26%.

Jika dulu angka CAR (Capital Adequacy Ratio) Bank Saudara selalu mepet-mepet dengan peraturan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tapi sekarang berada di 16,32% (Juni 2017).

Jadi, dari angka-angka itu sudah jelas bahwa merger ini membawa dampak positif.

Kemudian dari sisi laba, dari tahun ke tahun selalu ada peningkatan. Sebelum Merger X Bank Saudara membukukan Laba sebesar Rp123,66 miliar (Desember 2013), pada tahun 2016, Desember membukukan laba Rp309,82 miliar.

Strategi apa yang digunakan Bank Woori Saudara untuk melesatkan kinerjanya sedemikian rupa?

Pertama permodalan, kedua IT (information and technology) . Dengan Korea, IT kami totally berubah. Kita keluarkan internet banking, mobile banking, dan sebagainya. Semuanya menjadi efisien. Kinerja pun semakin membaik.

Dulu, kita tidak  terbayang punya internet banking, namun sekarang semua itu terwujud. Woori Bank Korea sendiri mempunyai sistem teknologi perbankan yang cukup canggih atau high tech, yaitu, Woori Global Standard System (WGSS).

Jadi, setelah memperoleh ijin penggabungan usaha atau merger dari OJK, Bank Woori Saudara melakukan integrasi pada seluruh aspek utama perusahaan yang meliputi corporate identity, struktur organisasi dan kebijakan internal. Sejalan dengan hal itu, pada tahun 2015, kami mulai melakukan pengembangan single platform core banking system, yang dinamakan WGSS tersebut.

Melalui integrasi sistem tersebut diharapkan akan semakin meningkatkan kualitas pengendalian risiko operasional sekaligus memperkuat daya saing dan posisi Bank Woori Saudara di dunia perbankan Indonesia.

Bagaimana implementasi tata kelola perusahaan di Bank Woori Saudara, mengingat bank ini merupakan penggabungan dua entitas yang sangat berbeda latar belakang budayanya?

Nilai Komposit GCG Kita di angka 2, itu artinya tata kelola perusahaan yang kita laksanakan cukup baik. Woori Bank Korea sendiri mempunyai tata kelola perusahaan atau good corporate governance (GCG) yang cukup detail dan ketat. Tuntutan transfaransi dan keterbukaan informasi di sana cukup tinggi.

Bayangkan saja, aset Woori Bank Korea mencapai sekitar ±Rp3500-4000 triliun. Artinya, size mereka sangat besar. Ketika mereka tidak GCG, tidak transfaran, dampak sistemik keuangannya pun tidak akan kecil. Woori Bank merupakan salah satu dari tiga bank terbesar di Korea. Karena itu, GCG di sana menjadi sebuah sistem.

Di Indonesia, kami terus memberikan pemahamanan terhadap investor, termasuk kepada Woori Bank, bahwa kita harus comply dengan peraturan di Indonesia. Rules-nya memang berbeda dengan yang ada di Korea. Dan sejauh ini, sampai sekarang, mereka terus berusaha memahami dan comply dengan peraturan di Indonesia. (SM)