PT MASS RAPID TRANSIT JAKARTA

PT MASS RAPID TRANSIT JAKARTA Laporan Tahunan 2016

BREAKING THROUGH THE FRONTIER

Atas dukungan berbagai pihak, pembangunan MRT Jakarta berhasil mengatasi berbagai tantangan dan mencapai kemajuan melebihi rencana yang ditargetkan di akhir 2016. Pembangunan prasarana menunjukkan kemajuan menggembirakan, persiapan operasi dan pemeliharaan pun telah diinisiasi. Pengembangan usaha mulai dipersiapkan. 2016 adalah tahun menerobos batas, dimana MRT menyiapkan pengoperasian dan pengelolaan yang berstandar internasional.

PERFORMANCE HIGHLIGHT

Akumulasi Realisasi Kemajuan Pembangunan MRT Jakarta telah mencapai 49,46% dari total 100%

Tahun 2016 merupakan periode penting bagi perkembangan pembangunan MRT Jakarta. Pasca peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2013, pembangunan MRT Jakarta terkendala persoalan lahan, padahal ketersediaan lahan merupakan kebutuhan paling mendasar dalam pembangunan jalur MRT Jakarta. MRT Jakarta mengupayakan pembebasan seluruh lahan prioritas dapat diselesaikan pada bulan Desember 2016 agar seluruh proses pembangunan dapat berjalan sesuai rencana dan tidak berhenti.

Secara keseluruhan, MRT Jakarta membutuhkan 637 bidang lahan. Terhitung sejak akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016, baru 351 bidang lahan yang dibebaskan, atau setara dengan 55,10 persen dari total kebutuhan lahan. Ini berarti masih ada 286 bidang lahan, atau setara dengan 44,90 persen dari total kebutuhan lahan, yang harus menjadi prioritas untuk dibebaskan. Dengan sesegera mungkin menyelesaikan kendala pembebasan lahan, maka pembangunan MRT Jakarta akan selesai tepat waktu. Faktor lain yang juga patut diperhitungkan adalah penunjukkan kontraktor yang memiliki kompetensi dan kualifikasi mumpuni supaya pembangunan MRT Jakarta dilakukan dengan perhitungan tepat dan rapi.

Hingga akhir tahun 2016, akumulasi realisasi kemajuan pembangunan MRT Jakarta telah mencapai 49,46% dari total 100% penyelesaian pembangunan, 1,68% lebih maju dari rencana pembangunan tahun 2016 yang sebesar 47,78%. Pencapaian ini merupakan realisasi atas 6 (enam) Paket Kontrak Sipil, yaitu CP 101 - CP 106; dan 2 (dua) Paket Kontrak Sistem, CP 107 dan CP 108. CP 101, CP 102 dan CP 103 yang merupakan konstruksi struktur layang Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja mengalami deviasi minus 0,59%, yaitu antara rencana 45,49% dengan realisasi sebesar 44,90%. Adanya deviasi dari konstruksi struktur layang CP 101-103 terutama terkait proses pembebasan lahan 136 bidang lahan prioritas seperti yang telah disebutkan di atas.

FINANCIAL HIGHLIGHT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rugi
Akibat adanya peningkatan pada penghasilan lain-lain yang sangat signifikan, Perusahaan mampu menurunkan Rugi komprehensif tahun berjalan sebesar Rp26,23 miliar, atau turun 42,1% dari tahun 2015 dari rugi sebesar Rp62,19 miliar menjadi rugi sebesar Rp35,96 miliar.

Aset
Aset Perusahaan di sepanjang tahun 2016 tumbuh 46,38% atau sebesar Rp1,93 triliun, dari Rp4,16 triliun di tahun 2015 menjadi Rp6,09 triliun pada tahun 2016. Pertumbuhan ini muncul sebagai akibat dari peningkatan Aset Lancar sebesar Rp80,5 miliar atau 20%, dari Rp395,30 miliar di tahun 2015 menjadi Rp475,86 miliar; dan peningkatan Aset Tidak Lancar Rp1,85 triliun, atau tumbuh 49,11% dari Rp3,76 triliun di tahun 2015 menjadi Rp5,61 triliun ditahun 2016.

RENCANA STRATEGIS

Memasuki tahun 2017, Perusahaan akan mulai mengambil fokus pada beberapa kebijakan strategis untuk merealisasikan percepatan pembangunan proyek menuju target pengoperasian MRT Jakarta pada Februari 2019. Paket Kontrak Sipil CP 101 - CP 106 dan Paket Kontrak Sistem CP 107 - CP 108 akan terus dilakukan dengan mengacu pada target kemajuan pembangunan yang telah ditetapkan. Sementara persiapan Operasi dan Pemeliharaan juga akan terus dilakukan Perusahaan sebagai langkah dasar bagi pengoperasian MRT Jakarta di masa mendatang. Kesiapan regulasi, SDM, hingga sistem perkeretaapian MRT Jakarta akan terus diupayakan sejalan dengan pekerjaan konstruksi yang ditargetkan rampung pada tahun 2017 Habis 2017.

Dalam upaya mendapatkan strategi terbaik pengelolaan pengembangan usaha ber-basis non-fare-box / NFB tersebut, melalui suatu proses pengadaan yang terbuka, PT MRT Jakarta memilih Roland Berger - Tusk JO untuk memformulasikan rencana bisnis NFB di Fase-1 untuk 13 stasiun (Lebak Bulus - Bundaran HI). Pendapatan NFB berpotensi diperoleh dari berbagai bisnis seperti Periklanan (Advertising), manajemen Ritel (Retail), dan pelayanan jaringan Telekomunikasi (Telco) di dalam stasiun berupa in building network coverage solution. Jika pengelolaan bisnis ritel direkomendasikan Rolad Berger - Tusk JO dikelola secara B2B direct-selling oleh PT MRT Jakarta sendiri, pengelolaan Telekomunikasi dan Periklanan direkomendasikan melalui kerjasama dengan Mitra sebagai penyedia infrastruktut Telco dan Advertising.

Pada level organisasi, pemenuhan ketersediaan karyawan sesuai Man Power Planning untuk kesiapan korporasi dalam melaksanakan Operasi dan Pemeliharaan juga menjadi kebijakan strategis Perseroan di tahun 2017. Maturity Score Sistem Manajemen Risiko dan Sistem Internal Audit & Control akan terus ditingkatkan, dengan tujuan melengkapi soft structure Tata Kelola Perusahaan yang Baik atau Good Corporate Governance (GCG) yang dimiliki Perusahaan. Dengan terus mengembangkan organ GCG, Perusahaan berharap untuk mampu meningkatkan level kompetensi korporasi mencapai Nilai Indeks Public Awareness yang signifikan.

Keterangan:


Tahun
2016
Peserta ARA
Ya
Kategori ARA
BUMD Non Keuangan Non Listed (BDNKNL)
Penghargaan
BUMN Non Keuangan Non Listed #2
Jumlah Halaman
558
Kantor Akuntan Publik
Purwantono, Sungkoro & Surja (A member of Ernst & Young Global Limited)
Biro Administrasi Efek
N/A
Kustodian
N/A
Agen Pemeringkat
N/A
Persatuan Karyawan
N/A
NPWP
N/A
TDP
N/A
SIUP
N/A
Tags
mrt,bumd,transportasi,indonesia,jakarta,infrastruktur

* Galeri memuat data laporan tahunan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Informasi, permintaan pemuatan maupun perubahan, hubungi: info@annualreport.id


Download Read PDF